Women Adventure Camp; Berjalan, Belajar, Bertumbuh

Sudah lama tidak menulis. Sekalinya pengen nulis, semuanya pengen aku ceritain.
Sudah sebulan, sejak kepulanganku dari Garut. Tepatnya mendaki ke Papandayan.

Pengen beli carrier dah gua.
Mau ke mana lu emang?
Papandayan.
Papandayan situ Garut? Pake waistbag aja anjir.


Ini patut kubanggakan soalnya aku mencoba peruntungan dengan one shoot. Perjalanan ini aku dedikasikan untuk hadiah ulang tahun diriku sendiri. Kalo ditanya gimana aku bisa ikut, sebenernya jawabannya mudah.

  1. Follow Instagram Eiger Adventure dan Eiger Women
  2. Daftar lewat tautan yang udah dilampirkan di poster
  3. Kasih kalimat atau submit jawaban bahwa kamu layak buat ikut kegiatan ini
  4. Berdoa
Kenapa berdoa? Karena (denger-denger) yang daftar banyak. Ini penting karena berdoa adalah kekuatan yang ngga bisa dikalahkan 👍

Setelah dapet pesan WhatsApp bahwa aku berangkat ke Garut, aku mulai prepare. Apapun. Fisik, logistik, apapunlah. Meskipun di sana ya tetep ada mengkeret. Dikit.

Aku berangkat dengan teman-teman lainnya pake kereta ekonomi. Ya, Sri Tanjung. Boyok jejeg tak lewati. Tiba di Garut pagi pukul 06.19 tanggal 12 April 2026. Dilanjutkan ke meeting point dengan sewa minibus. Kontingen Jogja lumayan banyak pesertanya. Jadi di bagian sewa minibus ini kami lebih hemat.

Menurutku, banyak hal menarik di kegiatan WAC ini. Akan kubagi kegiatan menarik ini dengan penomoran. Ihiy.

  1. Pembagian Barang
    Waktu di meeting point, kami dapet carrier series baru, satu pack produk Wardah, satu pack produk Earth Love Life, sitting pad, dan topi rimba dengan logo gagah berani; Eiger.
  2. Long March
    Sebenernya ngga terlalu long-long banget. Cuma yang menarik adalah ngelewatin hutan untuk menuju camp area.
  3. Makan Terjamin
    Baru kali ini aku naik gunung atau berkegiatan alam tapi makannya ena-enak. Aku jarang bahkan bisa dihitung jari naik gunung makan nasi. Tapi waktu WAC ngga ada satu hari pun aku ngga makan nasi. Emejing.
  4. Berkebaya di Gunung
    Menurutku, Eiger selalu punya cara supaya 'customer'-nya merasa memiliki brand tersebut. Bukan sekedar beli barangnya aja. Berkebaya di gunung jadi momen spesial. Eiger ngajak kami tetapi juga untuk membawa cerita, nilai, dan identitas diri dalam setiap perjalanan.
  5. Menanam Pohon
    Salah satu ikhtiar kecil yang dilakukan di Papandayan adalah menanam pohon. Meskipun aku rada kurang yakin tanamanku bakal tumbuh karena Papandaya isinya material vulkanik aktif, pasir, dan bebatuan. Tapi aku tetep yakin karena Allah bersama Gen Z yang percaya dengan kebesaran-Nya ☝
  6. Ruang Kelas
    Ruang kelas yang didirikan dengan tenda selalu punya atmosfer yang berbeda-beda karena materi yang diberikan beda-beda. Nah, bagian ini menyenangkan karena pematerinya disesuaikan dengan kami 'perempuan'.
Enam poin di atas cuma sedikit dari yang aku dapet di Papandayan. Aku sendiri merasa struggle karena harus hidup 3 hari dengan banyaknya orang yang mana aku kurang cocok di bagian ini. Tapi, aku belajar. Aku bisa. Kalo mau dapetin sesuatu yang kita pengen harus ada yang dikorbankan.

Sejatinya, perjalananku ke Garut ini bagian kecil dari diriku yang aku cari. Dan Eiger memfasilitasi itu. Aku pulang dengan banyak makna. Aku pulang dengan diriku yang merasa cukup dari apa yang aku cari sebelumnya.

Comments